Pengaruh Five Traits Personality dengan Perilaku Penemuan Informasi Individu

Dalam psikologi kepribadian dipelajari bagaimana kaitan antara ingatan atau pengamatan dengan perkembangan, bagaimana kaitan antara pengamatan dengan penyesuaian diri pada individu dan seterusnya (Koswara, 1991:3). Fungsi pertama yang harus dimiliki oleh setiap teori kepribadian adalah fungsi deskriptif (menguraikan/menerangkan). Fungsi ini menjadikan suatu teori kepribadian dapat mengorganisasi dan menerangkan tingkah laku atau kejadian yang dialami individu secara sistematis, fungsi kedua adalah fungsi prediktif, teori kepribadian harus mampu meramalkan tingkah laku, kejadian-kejadian atau akibat-akibat yang belum muncul pada diri individu.

Dengan didasari pendapat tersebut, Heinström menggunakan pendekatan melalui psikologi kepribadian untuk mengetahui hubungan antara inner traits (kepribadian) dengan perilaku penemuan informasi. Penelitian dilakukan terhadap 305 mahasiswa, penelitian ini berlandaskan teori Big Five personality yang dipelopori oleh Allport dan Cattel, yang kemudian kelima traits didalamnya dikembangkan oleh Mc Crae (1997).

Dalam teori tersebut diungkapkan bahwa kepribadian sangat mempengaruhi tingkah laku seseorang dalam melakukan penemuan informasi. Kepribadian sendiri dipengaruhi oleh extraversion, neuroticism, openness to experience, agreebleaness dan conscientiousness. Secara spesifik, lingkup penelitian Heinström adalah hubungan antara lima faktor yang mempengaruhi kepribadian dengan perilaku penemuan informasi. Kelompok kami mencoba menganalisa hasil penelitian Heinström tersebut dengan teori lain milik Eysenck, Hamburger, Artzy, Stereinova, Susol maupun milik Mc Crae.

Sebagaimana dikemukakan oleh Wersig dalam Belkin dan Vickery (1985), manusia membutuhkan informasi karena adanya problematic situation (situasi yang penuh masalah, situasi ruwet) (Pendit, 1992:75). Mencari dan menggunakan informasi adalah bagian tetap dalam kehidupan manusia (Johnstone dan Tate, 2004). Munculnya kesenjangan dalam diri seseorang tersebut akhirnya mendorong orang untuk mencari informasi guna mengatasi permasalahan yang dihadapinya (Kuhltau, 1991).

Setiap individu maupun sekelompok manusia sangat dimungkinkan mempunyai perbedaan perilaku informasi. Heinström (2003) mengemukakan dalam penelitiannya bahwa terdapat perbedaan dalam pencarian informasi yang terkait dengan karakter individu. Pemahaman karakteristik psikologis dapat memberikan keterangan pada kedua pola dan keberagaman dalam perilaku penemuan informasi (Wilson, 2002). Salah satu mekanisme psikologis yang terpenting yaitu kepribadian sebagai panduan dalam berperilaku. Setiap orang memiliki keunikan perasaan, pikiran dan tingkah laku, yang dibentuk oleh kombinasi sifat kepribadian yang cukup stabil (Pharis, 1991). Sebagai sebuah bentuk kepribadian inklinasi, reaksi terhadap karakteristik tertentu dalam beberapa situasi, dimana sifat kepribadian, cenderung mempengaruhi sikap dan tingkah laku dalam konteks perilaku penemuan informasi.

Karakter individu yang ditelaah oleh Heinström adalah neurotisme, ekstrovert-introvert, keterbukaan akan pengalaman, keterbukaan terhadap kesepakatan dan sifat berhati-hati. Heinström menyimpulkan bahwa setiap individu ternyata tidak selalu memakai cara yang sama dan umum dalam setiap pencarian informasi. Meskipun keteraturan pola penemuan informasi telah banyak dikemukakan, ada pengecualian yang tidak selalu tertulis pada pola tersebut, salah satunya adalah perbedaan kepribadian.

Kepribadian adalah karakteristik dinamik dan terorganisasi dari seorang individu yang mempengaruhi kognisi, motivasi, dan perilakunya. Kepribadian bersifat unik dan konsisten sehingga dapat digunakan untuk membedakan antara individu satu dengan lainnya (Feist & Feist, 2005). Keunikan inilah yang menjadikan kepribadian sebagai variabel yang digunakan untuk menggambarkan diri individu yang berbeda dengan individu lainnya.

Extraversion sangat erat hubungannya dengan interaksi sosial dan sosiabilitas. Individu dengan kepribadian exstravert digambarkan sebagai individu periang atau penggembira. Pada saat berhubungan dengan orang lain akan mudah membangun hubungan sosial, aktif dalam memanfaatkan kesempatan ketika berjumpa dengan orang lain, easy going, dan optimis. Dalam kerangka Big Five, Costa & McCrae (1992) mengemukakan bahwa extraversion ini dianalogikan dengan pandai bergaul (gregariousness = sociable), tegas (assertiveness = forceful), aktif atau energik (activity = energetic), suka mencari pengalaman baru (excitement-seeking = adventurous), dan hangat (warmth = outgoing).

Pribadi seperti ini merupakan pengguna informasi tipe strategik (Steirenova & Susol, 2005) dimana dalam pengaksesan informasinya didorong oleh motivasi eksternal (lingkungan sosial maupun peer group). Karena pribadinya yang hangat, umumnya ia bersikap dan berpikiran positif terhadap sumber informasi yang digunakannya namun karena kepribadian ini juga bersifat easy going, maka individu ini biasanya tidak mengakses informasi secara mendalam seperti pada tipe analitik. Seringnya individu yang seperti ini merasa cukup/puas dengan informasi yang diperolehnya.

Sebaliknya introvert dikatakan sebagai sifat individu yang pendiam, menarik diri dari pergaulan sosial, hati-hati dalam bertindak, suka membuat perencanaan yang relatif detil, dan tidak suka mengekspresikan emosi (Eysenck & Eysenck,1991). Pribadi seperti ini merupakan tipe pengguna analitik, karena individu ini cenderung lebih sabar, tenang dan mampu mengorganisasikan waktunya secara efisien dan konstruktif (Stereinova & Susol, 2005). Seperti yang dijelaskan oleh Stereinova dan Susol bahwa pengguna tipe analitic, selalu merasa tidak puas dengan informasi yang diperolehnya, sehingga ia tidak mempertimbangkan waktu dan biaya yang dihabiskan untuk terus mencari informasi asalkan kebutuhannya terjawab. Bukan masalah baginya untuk menelusuri satu per satu dokumen yang tidak sistematis untuk kemudian di analogikan sendiri sesuai pengetahuannya.

Neuroticism secara umum berhubungan dengan ketidak stabilan emosi internal individu. Individu dengan kadar neuroticism yang tinggi umumnya mudah cemas, khawatir, kurang bisa mengontrol emosi, dan seringkali dikonotasikan dengan depresi. Sebaliknya, orang yang kadar neuroticismnya rendah menunjukkan emosi yang relatif stabil, kalem, tidak temperamental, tidak mudah cemas (Eysenck & Eysenck, 1991).

Neuroticism sering juga dihubungkan dengan pengaksesan informasi. Terutama pengaksesan informasi melalui internet, semakin sering menggunakan Internet, individu akan semakin neurotic. Terdorong oleh pendapat inilah Hamburger & Artzi (2003) melakukan penelitian untuk menguji model hubungan sebab akibat antara pengaksesan informasi melalui internet dengan kepribadian neurotic. Hasil menarik dari penelitian Hamburger dan Artzi ini adalah bahwa Internet tidak mengakibatkan neurotic, tetapi sebaliknya karakteristik individu neurotic yang menghindari kontak sosial face to face yang mendorong mereka menggunakan internet, terutama untuk tujuan sosialisasi. Pendapat tersebut didukung pula oleh Mc Crae & Costa, ia mengungkapkan bahwa kepribadian neuroticism ditandai dengan kecenderungan untuk mudah mengalami perasaan kecewa, marah, dan depresi sehingga seringkali mengganggu keharmonisan pola hubungan dengan orang lain. Perubahan mood dan pola emosi ini hanya dirasakan oleh individu neurotic dan seringkali tidak ada hubungannya dengan keberadaan orang lain. Lebih lanjut Hamburger & Artzi berargumen bahwa tidak ada pola khusus dalam penggunaan internet karena setiap orang, baik yang memiliki kadar neuroticism tinggi maupun neuroticism rendah akan menggunakannya dengan tujuan yang berbeda. Bila individu dengan kadar neurocitism rendah akan menggunakan IT untuk memperluas jejaring sosial termasuk di dalamnya email, individu dengan kadar neuroticism tinggi cenderung menggunakan IT untuk aktivitas solitaire, misalnya browsing informasi dan membaca berita (Maldonado, 2001).

Openness to Experience mempunyai ciri mudah bertoleransi, kapasitas untuk menyerap informasi, menjadi sangat fokus dan mampu untuk waspada pada berbagai perasaan, pemikiran dan impulsivitas. Seseorang dengan tingkat openness yang tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki nilai imajinasi, broadmindedness, dan a world of beauty. Sedangkan seseorang yang memiliki tingkat openness yang rendah memiliki nilai kebersihan, kepatuhan, dan keamanan bersama, kemudian skor openess yang rendah juga menggambarkan pribadi yang mempunyai pemikiran yang sempit, konservatif dan tidak menyukai adanya perubahan.

Openness dapat membangun pertumbuhan pribadi. Pencapaian kreatifitas lebih banyak pada orang yang memiliki tingkat openness yang tinggi dan tingkat agreeableness yang rendah. Seseorang yang kreatif, memiliki rasa ingin tahu, atau terbuka terhadap pengalaman lebih mudah untuk mendapatkan solusi untuk suatu masalah.

Dimensi kepribadian opennes to experience sering dikaitkan dengan intelektualitas, ketertarikan pada hal-hal yang baru, innovativeness, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru (Srivastava, 2006). Individu openness memiliki keinginan dan keyakinan untuk dapat melakukan tugas-tugas yang dihadapinya. Namun demikian, tidak semua orang yang mempunyai akses terhadap informasi menggunakannya sebagai sarana komunikasi. Ketidak yakinan akan kemampuan merupakan salah satu penyebab keengganan individu menggunakan suatu perangkat pengakses informasi.

Self efficacy merupakan salah satu indikator dari openness to experience, sehingga individu yang open minded tidak mengalami hambatan untuk menggunakan perangkat pengakses informasi (Albert Bandura, 1986). Karakteristik individu lainnya yang sering dihubungkan dengan penerimaan informasi ini adalah keterbukaan menerima inovasi (Minsky & Marin, 1999).Perbedaan aspek di atas, akan menghasilkan pola pikir yang mempengaruhi perilaku informasi individu.

Conscientiousness dapat disebut juga dependability, impulse control, dan will to achieve, yang menggambarkan perbedaan keteraturan dan self discipline seseorang. Seseorang dengan tingkat conscientious tinggi memiliki ambisi. Lingkungan menggambarkannya sebagai seseorang yang well-organize, tepat waktu, dan ambisius. Conscientiousness mengutamakan kontrol terhadap lingkungan sosial, berpikir sebelum bertindak, menunda kepuasan, mengikuti peraturan dan norma, terencana, terorganisir, dan memprioritaskan tugas. Di sisi negatifnya trait kepribadian ini menjadi sangat perfeksionis, kompulsif, workaholic, membosankan. Sedangkan seseorang dengan tingkat conscientiousness yang rendah menunjukan sikap ceroboh, tidak terarah serta mudah teralih perhatiannya.

Menurut kelompok kami, individu dengan tingkat conscestiousness tinggi perilaku penemuan informasinya hampir sama dengan individu yang berkepribadian extraversion dengan kadar rendah. Karena traits dari dua kepribadian ini relatif sama.

Agreeableness Agreebleness disebut juga social adaptibility yang mengindikasikan seseorang yang ramah, memiliki kepribadian yang selalu mengalah, menghindari konflik dan memiliki kecenderungan untuk mengikuti orang lain. Berdasarkan survey, seseorang yang memiliki skor agreeableness yang tinggi digambarkan sebagai seseorang yang memiliki value suka membantu, forgiving, dan penyayang. Namun, ditemukan pula sedikit konflik pada hubungan interpersonal orang yang memiliki tingkat agreeableness yang tinggi, dimana ketika berhadapan dengan konflik, self esteem mereka akan cenderung menurun. Sedangkan orang-orang dengan tingkat agreeableness yang rendah cenderung untuk lebih agresif dan kompetitif.

Pribadi dengan tingkat agreeableness rendah melakukan persaingan yang merupakan akibat dari kurangnya pengalaman yang juga merupakan rintangan dalam pencarian informasi, sebagai suatu judgment atas kompetensi seseorang, bila dianalisis secara kritis kapasitas seseorang dapat dilihat melalui keterbukaan pengetahuan akan informasi. Saat ini, keterbukaan pengetahuan akan informasi menunjukkan hubungan antara kemampuan bersaing dan analisis kritis informasi suatu individu, kemampuan bersaing umumnya terjadi lebih pada konteks akademik (Costa & McCrae, 1992 : 15).

Komentar bertahan »

HoWs LiFe?!

Never better…

Ini merupakan blog pertama saya di wordpress.com dan saya sangat berharap blog ini dapat bermanfaat untuk siapa saja yang kebetulan mengaksesnya.

Warm Regard,,,

Ayu Saraswati

Komentar (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.